[Type the document title]
[Year]


PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Latar belakang penulisan tugas ‘Perkembangan Mompang julu Dari tahun 2001 hingga 2010’ ini adalah sebagai tugas mata kuliah Urban dan Regional Planning di Departemen Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara yang telah ditugaskan oleh dosen pengasuh matakulaih yang bersangkutan Bapak Ir. Jeluddin Daud, M.Eng yang akan dikumpul pada tanggal 05 April 2010

  1. Pengertian

Pengertian-pengertian yang digunakan dalam Penyusunan Tugas ini adalah sebagai berikut:

Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai suatu kesatua wilayah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya melakukan kegian serta memelihara kelangsungan hidupnya

Pengembangan adalah hasil dari struktur dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak direncanakan

Penataan ruang adalah proses perencanaan ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang

Perencanaan Pengembangan adalah perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang yang meliputi tata guna lahan tata guna air dan tata guna sumber daya lainnya yang dilakukan melalui proses dan penyusunan sesuai ketentuan yang berlaku

Pola pemanfaatan ruang adalah beentuk hubungan antar berbagai aspek sumber daya manusia, sumberdaya alam , sumberdaya buatan, dengan social, budaya, ekonomi, teknologi, informasi, administrasi, pertahanan, keamanan berdasarkan dimensi ruang dan waktu yang dalam kesatuan secara utuh menyeluruh serat berkualitas membentuk suatu ruang

Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis  beserta segenap unsure terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administrative dan atau aspek fungsional

Kawasan dalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsure terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsi dan atau penggunaan lahan tertentu.

  1. Klarifikasi dan verifikasi Data

Data-data yang digunakan dalam Tulisan ini diperoleh dari arsip Kantor Camat Panyabungan Utara, Website Badan pusat Statistik Sumatera Utara, Wikipedia Indonesia, dan dari cerita rekan-rekan sekampung penulis (sdr Asharuddin Nasution,dll)

LETAK GEOGRAFIS

Mompang julu terletak di kaki pegunungan bukit barisan, sehingga struktur tanahnya tidak sepenuhnya datar, tetapi bergelombang dan berbukit-bukit. Jika dilihat dari model dasarnya, seluruh kampung ini dan persawahannya berada pada sudut miring ± 10-40 derajat , dengan medan dan perbukitan yang terjal hingga hampir 80 derajat, bisa dipastikan bahwa mata air amat banyak di desa ini, terutama di rura (lembah) bukit-bukitnya.

Dengan luas ± 10 km , sebagian besar di dominasi oleh lahan perkebunan karet (35%), perkampungan (20%), persawahan dan ladang (30%) dan sisanya adalah hutan dan semak belukar yang terutama di bukit-bukit Barisan. Walau secara geografis terletak di dekat garis khatulistiwa (01 LU), musim hujannya adalah dari bulan Oktober-Maret dan kemarau di bulan April-September, namun seiring dengan pemanasan global sekarang ini, perubahan musim jadi tidak menentu.

Pada 1998, kemarau yang hebat di hampir seluruh Sumatera khususnya di Mompang Julu menyebabkan debit air sungai Siala Payung tidak sampai ke sebagian besar sawah, dan karena tiadanya air tersebut, sawah-sawah menjadi kering, hingga penduduk mengubahnya menjadi kebun karet, hingga sekarang hampir semua sawah di dolok (utara) kampung ini telah menjadi karet, terutama karena harganya yang relatif tinggi.

Desa Mompang Julu berbatasan dengan :
– Sebelah Utara berbatasan dengan Bukit Barisan (Dolok Malea)
– Sebelah Timur berbatasan dengan Sarak Matua
– Sebelah Selatan/Barat Daya berbatasan dengan persawahan desa Gn.Barani/Rumbio
– Sebelah Barat/Barat Laut berbatasan dengan Mompang Jae

Sket sederhana Desa Mompang Julu Kec Panyabungan Utara Tahun 2001

Sket sederhana Desa Mompang Julu Kec Panyabungan Utara Tahun 2010

SEJARAH DAN KONDISI SOSIAL MASYARAKAT

  1. SEJARAH

Sejarah awal Mompang Julu tidak diketahui dengan pasti. Pada salah satu buku “Turi-turian ni raja Gorga di langit” disebutkan bahwa pada tahun 1600-an di Mompang Julu telah lama berdiri sebuah kerajaan dan mungkin bukan bermarga Nasution seperti yang ada sekarang. Ketika terjadi perselisihan antara kerajaan Panyabungan Tonga dengan Lumban Kuayan, pihak Mompang membantu Lumban Kuayan. Kerajaan di sini adalah berupa suatu kampung dan daerah sekitarnya yang dipimpin oleh seorang raja (kepala desa sekarang). Raja ini dianggap sakti dan mempunyai pengaruh yang kuat di masyarakatnya dan merupakan hak turun-temurun.

Karena hal itu, kerajaan Mompang diserang oleh Panyabungan Tonga, namun dapat ditangkis oleh Mompang terutama berkat kecakapan Hulubalangnya yang bernama Huting Jalang(kucing liar). Setelah itu pihak Panyabungan Tonga menawarkan perdamaian yang merupakan suatu muslihat untuk menaklukkan Mompang. Ketika perundingan berlangsung, pasukan dan rakyat Panyabungan Tonga sudah bersiap-siap di tepi Aek Siala Payung. Ketika bungkusan daun makanan penghulu Panyabungan Tonga hanyut melewati pasukannya di tepi Aek Siala Payung yang merupakan isyarat bahwa perundingan telah gagal, dengan segera rakyat dan pasukan PanyabunganTonga meyerbu Mompag. Seluruh penduduk yang ditemui dibunuh dan kampung itu dibakar. Hanya seorang putri raja yag berhasil melarikan diri dengan pengiringnya yang setia ke Dalu-Dalu.

Dengan kekalahan ini, Mompang menjadi wilayah Kerajaan Panyabungan Tonga. Keturungan raja-raja di Mompang masih satu darah dengan raja-raja di Panyabungan Tonga-Huta Siantar-Manyabar-Pidoli. Kata Mompang juga tidak jelas asal-muasalnya. Mungkin berasal dari kata mangompang (tanggul-tanggul penahan air) dan juga tidak diketahui persis sejak kapan kata itu dipakai. Kampung Mompang ada 2, yaitu Mompang Julu dan Mompang Jae. Dulu kampung ini satu, kemudian oleh raja Mompag di bagi 2 untuk putranya. Yang kita bicarakan disini adalah Mompang Julu. Kampung yang dulunya tempatnya bukan di perkampungan sekarang, tetapi di Saba Dolok/Saba Alasona di utara desa yang sekarang dengan nama Huta Lobu.

Peninggalannya yang masih dapat dilihat sampai sekarang adalah komplek makam-makam kuno yang pernah beberapa diantaranya dibongkar orang untuk mengambil barang-barang berharga yang dikubur bersama mayat. Kepercayaan penduduknya waktu itu masih bersifat animisme/dinamisme. Walaupun agama Islam telah sampai di Sumatera (khususnya Barus dan Aceh) pada awal abad ke-10, agama ini baru sampai ke Mandailing khususnya Mompang Julu pada tahun 1820-an ketika berlangsungnya penyerbuan kaum Paderi dari Sumatera Tengah/Barat pimpinan Tuanku Tambusai.

Penduduk yang ketakutan banyak yang melarikan diri ke hutan-hutan di sekitar kampung itu, karena konon kaum Paderi menangkapi wanita-wanitanya untuk dijual sebagai budak. Tempat pelarian itu sampai sekarang masih ada seperti Sianggunan (tempat mengayun anak), Tor Kubur dan lain-lain. Lama-kelamaan penduduk yang melarikan diri itu banyak yang balik lagi ke kampung dan mengubah kepercayaannya dengan sukarela. Memang tentang sejarah penyerbuan kaum Paderi ini sangat sedikit sekali diketahui (hanya dari mulut ke mulut). akhirnya Huta Lobu pindah ke komplek Polres Madina sekarang dan berganti nama menjadi Mompag  dan sekarang sudah pindah lagi ke perkampungan yang sekarang yaitu sekitar mesjid raya ridhusshalihin ssekarang ini karena adanya peristiwa karom mompang(mompang bajir bandang akibat sungai siala payung meluap dan menenggelamkan kampung ini, konon karena ada seorang kakek tua yang datang ke kampung ini meminta makan tapi tidak ada seorang pun yang memberinya makan dan kampung ini kena kutukan(lebih halusnya disebut peringatan dari Tuhan) . Akibat peristiwa ini ibu ibu di kapung ini kebanyakan kalau malam hari sesudah makan malam menyisakan makanan sekedarnya jaga-jaga kalau ada yang datang meminta makanan.

Walaupun Belanda masa itu menguasai Indonesia khususnya di Mandailing, namun pengaruhnya di Mompang Julu dan Mandailing Umumnya tidak begitu terasa seperti di pulau Jawa dengan adanya Tanam Paksa dan Kerja Paksa. Di jaman Jepang, kehidupan baru terasa sangat sulit dengan terpaksa mengenakan pakaian dari kulit kayu dan goni. Pada tahun 1937, banjir bandang melanda Mompang Julu, hingga memaksa penduduknya mengungsi dan pindah ke tempat kampung yang ada sekarang. Mereka tidak balik lagi ketempat semula mungkin karen takut banjir susulan sewaktu-waktu akan datang lagi.

  1. AGAMA

100 persen agama yang di anut masyarakat ini adalah Islam dan merupakan penganut agama islam yang taat, hal ini dapat terlihat dari kehidupan masyarakat sehari hari.  Anak anak pesantren yang selalu memakai lobe kemana mana,setiap malam hari pergi mengaji Al Qur’an ke rumah ustadz, untuk tingkat anak anak SD belajar membaca ( Iqra’) dan yang setingkat SMP belajar musabaqah ( belajar cara menyanyikan bacaan Al Qur’an ). Demikian juga dengan kaum Bapak dan kaum Ibu yang mengadakan pengajian  ( wirid ) setiap malam jum’at, kemudian setiap malam senin diadakan pengajian yaitu acara ceramah agama di mesjid dengan mengundang guru(syekh) dari desa Purba baru

  1. SOSIAL

Kehidupan social masyarakat pada umumnya rukun dan damai, ini terlihat dari kebiasaan Naposo Bulung(Pemuda) dan  Nauli Bulung(Pemudi)  yang saling gotong royong setiap senin sore membersihkan Mesjid dan pekarangannya, selain itu masyarakat selalu gotong royong memanen padi (manyabi eme) yang dikenal dengan istilah ‘marsialap ari’.

Strata social masyarakat ckup bervariasi dari yang kaaya hingga yang miskin, namun sejauh ini tidak menimbulkan kesenjangan yang berakibat negative bagi kehidupan masyarakat secara umum. Karena banyak yang berprofesi sebagai toke(juragan)di kebun atau sawah karena untuk industry tidak ditemui di desa ini, baik industri kecil maupun industri besar.

Namun disisi lain, kehidupan sosialnya amatlah peka, dengan adanya ketimpangan ekonomi/sosial di sana, sering menimbulkan permusuhan diam (api dalam sekap) yang siap-siap kapan saja meledak bak bom waktu. Maka tak heran, bila tetanggan kita yang dua hari lalu makan dirumah kita hari ini bisa datang marah-marah bagai orang kesurupan.

  1. ADAT/BUDAYA

Keberadaan adat bagi masyarakat Mompang julu sangat penting, karena kehidupan sehari-hari masyarakat tidak bisa dilepas dari adat budaya yang melekat kental yang diturunkan dari nenek moyang suku batak pada umumnya, namun banyak mendapat pengaruh dari adat budaya masayarakat Minang dari Sumatera Barat, termasuk masuknya Agama Islam dibawa oleh suku Darek(Minang) ke Mandailing melalui Rao-Panti diperbatasan Sumatera Barat dengan Sumatera Utara.

  1. PENDIDIKAN

Sedangkan dari segi pendidikan, rata-rata yang tamat / tidak tamat SD ± 45%, SMP ± 25%, SMA ± 15% dan Sarjana/Akademi kurang dari 5%. Setelah tamat SD, banyak anak-anak yang melanjutkan ke SLTP atau ke Pesantren atau tidak melanjutkan sama sekali, namun kebanyakan putus ditengah jalan, terutama anak laki-laki di pesantren. Memang dapat dilihat minat masyarakat untuk melanjutkan study anak-anaknya sangat kurang, bahkan bagi yang mamapu sekalipun. Merekan lebih suka anaknya dekat dengan mereka daripada belajar jauh-jauh seperti di Medan, Pekanbaru dan Padang. “Sekolahpun kalau mau nyari kerja tetap nyogok-nya” itulah ungkapan yang sering mereka lontarkan.

Padahal banyak anak anak setelah tamat SD yang melanjutkan ke Pesantren tersohor di Sumatera utara yaitu Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru,namun kebanyakan terbengkalai tidak sampai tamat karena banyak yang tergiur untuk merantau ke daerah lain. Seharusnya meraka yang menjadi panutan masyarakat sebagai tokoh agama masa depan bagi Desa Mompang Julu, Mandailing Natal,dan Indonesia pada umumnya. Walaupun tidak semua yang berhenti sekolahnya ditengah jalan, masih ada sebaian lagi yang tetap melanjutkan sekolahnya, bahkan tidak sedikit yang berhasil mendapat beasiswa kuliah ke Universitas Al Azhar Kairo-Mesi, Maroko, Arab Saudi, Pakistan, Malaysia dan lain-lain. Bahkan sudah banyak yang telah kembali ke kampong dan menjadi Da’I ditengah-tengah msyarakat.

KAWASAN PERMUKIMAN

Kawasan Pemukiman warga Desa Mompang Julu yang sekarang ini merupakan pergeseran penggunaan lahan yang diakibatkan oleh banjir bandang sungai Siala Payung, sehingga masyarakat pindah kea rah barat menjauh dari daerah sungai Siala Payung tersebut.

Pada umumnya, pemukiman masyarakat berada di pinggiran jalan lintas sumatera dan sebagian di dalam yaitu di dalam gang-gang perkampungan yang sekarang sudah diaspal, namun gang ini tidak ada yang jauh menjorok kedalam, hanya kira-kira 200 meter.

Rata-rata rumah penduduk terbuaat dari beton(sekarang ini) namun kalau kita sudah tingggal dikampung ini sejak tahun 2001 atau sebelumnya, rata-rata rumah penduduk umumnya terbuat dari kayu atau bahkan dari bamboo, ini masih dapat kita jumpai umumnya yang didalam gang, karena yang dipinggiran jalan lintas sumatera sudah banyak yang mengalami perubahan menjadi rumah-rumah beton.

Tiap rumah tangga memiliki satu rumah masing-masing, hanya sebagian kecil yang mengontrak, itu pun biasanya yang mengontrak rumah adalah penduduk pendatang yang baru bermukim di desa ini, seperti keluarga polisi yang baru bertugas di Polres Mandailing Natal, karena kantor Polresnya sendiri terletak di kampong ini.

Ada juga yang menompang dengan orang tua, bagi pasangan suami istri yang baru menikah, namun ini biasanya hanya berlangsung tidak lama, karena tidak lama setelah itu pasangan suami istri baru tersebut akan membangun rumah dekat dengan rumah orang tua pihak keluarga laki-laki maupun kaluarga perempuan.

KAWASAN PERKEBUNAN

Kawasan Perkebunan umunya terletak di dolok(utara), karena letak perkebunan ini tpografinya lebih curam dan lebih tinggi dari pada kawasan pemukiman, namun ada juga sebagian kecil yang terletak di bagian selatan dari kawasan pemukiman warga.

Lokasai perkebunan ini berada di wilayah bukit barisan sehingga cukup curam sebaigannya, dan perkebunan ini merupakan perkebunan milik warga desa mompang julu yang diwariskan turun menurun, yang oleh warga di Tanami dengan pohon karet (hampir seluruhnya), namun diselingi juga dengan pohon kelapa dan pohon durian (hanya sebagian kecil).

Luas areal perkebunan dari dulu sampai sekarang di desa Mompang Julu mengalami pertambahan karena pada saat terjadinya musim kemarau tahun 1998, masyarakat yang memilki areal sawah di sebelah dolok(utara) mengubahnya menjadi perkebunan karet, ditambah lagi dengan pembukaan perkebunan baru di sekitar bukit barisan, karena dulu masih sulit menjangkau kesana, sekarang karena akses jalan di sebagian perkebunan warga sudah lebih bagus dan banyak pemuda di kampong ini yang menganggur(tidak memilliki pekerjaan tetap) membuka hutan di bukit tersebut dan menanaminya dengan tanaman karet, hal ini terjadi ahir-ahir ini sekitar  tiga tahun belakangan ini.

KAWASAN PERSAWAHAN

Kawasan Persawahan penduduk berada di sebelah (lombang) selatan permukiman, dan ini merupakan mata pencaharian dominan kedua detelah berkebun karet, luas areal sawah ini di airi dengan adanya sungai siala paying dan pada tahun 1980-an sudah dibangun bangunan irigasi untuk mengairi sawah penduduk, namun pada tahun 2000-an mangalami kerusakan karena penduduk banyak yang membuang sampah ke aliran irigasi ini, kemudian pada tahun 2007 dibersihkan lagi oleh pemerintah daerah mandailing Nata, namun hanya sebentar saja irigasi ini berfungsi karena masyarakat masih membuan gsampah ke irigasi ini.

Namun, walaupun irigasi sudah tidak berfungsi lagi, areal persawahan penduduk ini tetap mendapat air yang cukup, masyarakat membuat saluran-saluran air untuk sawah mereka seadanya, dan ini mungkin yang  menyebakan tidak begitu pedulinya masyarakat terhadap saluran irigasi yang sudah ada tersebut.

Secara umum dari tahun 2001 hingga 2010 areal persawahan di Desa Mompang Julu tidak mengalami penambahan muapun pengurangan luasnya, karena pertimbuhan pemukiman penduduk pun tidak begit signifikan dan tidak sampai mengurangi areal persawahan yang ada.

PEREKONOMIAN DESA

Mata pencaharian penduduk masyarakat Mompang Julu sebagian besar adalah Petani/usaha pertahian (75%), perekonomian (10%), jasa dan lain-lain (10%). Dengan mayoritas petani, karet meruopakan tanaman yang sangat penting, bahkan pada sebagian warga, karet adalah satu-satunya sumber penghasilan. Dengan harga relatif tinggi (Rp. 6.000,-), seharusnya kehidupan masyarakatnya pastilah bagus, atau setidak tidaknya diatas garis kemiskinan, tapi lihat saja waktu adanya pembagian dana BLT dari dana kompensasi kenaikan BBM, karena dirasa tidak adil, ada anggota masyarakat yang berkelahi atau hampir-hampir berkelahi. Kenapa hal ini terjadi ?

Hal itulah yang menyebabkan banyaknya para pemudanya yang memilih merantau seperti ke Medan, Pekanbaru, Pulau Jawa bahkan ke Bali, Kalimantan dan Sulawesi.

Beberapa orang dari mereka yang merantau diberbagai daerah, bahkan luar negeri banyak yang telah berhasil, atau setidak-tidaknya kehidupannya dirasakan lebih baik dari di Mompang Julu. Tapi banyak juga mereka terutama yang telah berhasil lupa dengan kampung halamannya. Entah karena tidak mengenal kata “Balas Budi” atau tidak peduli sama sekali untuk membangun kampungnya setidaknya membantu orang yang mau merantau ketempatnya.

Para perantau yang tidak lupa kampungnya, terutama keluaraganya, sering mengirimkan sejumlah uang sehingga sedikit banyak telah meningkatkan taraf hidup masyarakat.

  1. PERTANIAN

Perekonomian masyarakat Desa Mompang Julu bisa dikatakan bersandar pada sector pertanian, karena sejumlah besar penduduk mata pencahariannya adalah petani

  1. PERIKANAN

Perikanan Desa Mompang Julu cukup memiliki prosrpek yang bagus, namun sejauh ini tidak mendapat perhatian yang serius baik oleh aparatur desa, pemerintah dan penduduk, perikanan hanya sebagai tambahan penghasilan bagi masyarakat.sektor perikanan ini masih perlu perhatian lebih unutk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

  1. PETERNAKAN

Sektor Peternakan juga tidak jauh berbeda dengan perikanan, sector ini hanya sebagai penghasilan tambahan bagi masyarakat dengan membuat kandang ayam atau itik dibelakang rumah mereka.

  1. PERDAGANGAN

Selain perkebunan, pertanian, perikanan dan peternakan, mata pencaharian penduduk yang lainnya adalah perdagangan, dan perdagangan tidak dominan oleh penduduk desa ini, mereka yang bermatapencaharian sebagai pedagang umumnya berbadang dari poken ke poken(pasar ke pasar) karena di hampir tiap tiap kecamatan mempunyai pasar sendiri-sendiri yang buka hanya pada hari pekan, masing-masing pekan mempunyai  ahri pekan sendiri,misalnya di Mompang hari pekannya pada hari senin, di Panyabungan pada hari Kamis, dan lain lain.

  1. JASA DAN INDUSTRI KECIL

Sektor ini hanya sedikit sekali di jumpai di desa Mompang julu, karena tidak memiliki prospek bisnis yang menjanjikan, misalnya hanya tukang pangkas, tukang urut dukun patah,dll.

  1. KETERKAITAN DENGAN WILAYAH LAIN

Desa Mompang Julu memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan wilayah lain, misalnya dengan dengan panybungan, karena Panyabungan merupakan ibukota kabupaten(jaraknya 6 km dari Mompang Julu), keterkaitan ini hampir disegala aspek, misalnya untuk menjual hasil perkebunan dan pertanian banyak dijual ke Panyabungan, siabu, kota nopan dan lain lain. Demikian juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, banyak juga penduduk yang berbelanja ke wilayah lain.

Sedangkan hasil perkebunan karet biasanya penduduk menjualnya ke toke karet(juragan karet)yang membeli karet penduduk dan menjualnya langsung ke Medan (industri ban). Namun dulunya hal ini tidak demikian karena karet penduduk dijual ke tengkulak yan gmengakibatkan harga jual karet bagi masyarakat rendah.

KONDISI  PERUMAHAN DAN INFRASTRUKTUR

  1. PERUMAHAN

Letak perumahan penduduk umumnya berada di sekitar jalan lintas sumatera yang melintasi Desa ini, namun secara umum kondisinya tidaklah buruk, karena hampir tiap rumah tangga memiliki rumah sendiri.

Pada tahun 2000 jumlah rumah yang ada di desa Mompang Julu berjumlah  398 unit, ssedangkan pada tahun 2007 sudah mencapai 646 unit. Ini merupakan pertumbuhan yang cukup pesat dibanding dengan desa lain disekitar desa mompang julu.

  1. INFRASTRUKTUR DAN  UTILITAS
    1. JARINGAN JALAN

Jaringan jalan di desa ini bisa dikatakan sanga bagus, akses menuju dan dari desa ini sangat mudah dicapai karena berada di pinggir jalan lintas Medan-Padang. Sehingga hasil perkebunan, pertanian dan hasil bumi lainnya mudah untuk di jual ke daerah lain. Kondisi jalannya sekarang sudah sangat bagus, khususnya di wilayah Mandailing Natal. Untuk menjangkau Medan atau Padang bisa dikatakana sangat mudah karena kondisi jalan sudah sangat bagus,hanya ada sedukit kerusakan di jalan dari Panyabungan ke medan yaitu di aek latong-tapanuli selatan.

Hal ini tidak demikan jika kita tinjau pada tahun sebelum tahun 2000, kondisi jalan waktu itu masih jelek secara umum, khususnya diperbatasan antara Mandailing Natal dengan Tapanuli Selatan, perbatasan antara Tapanuli Selatan dengan Tapanuli Utara, dan perbatasan antara Mandailing Natal dengan Sumatera Barat.

Masyarakat tentunya sangat senang dengan perbaikan jalan ini, karena mereaka lebih mudah untuk mengakses wilayah lain demikian juga untuk orang lain yang ingin ke wilayah ini menjadi lebih mudah. Sehingga potensi yang dimiliki bisa di eksplor lebih banyak lagi.

  1. SALURAN DRAINASE (AIR KOTOR/SANITASI)

Air buangan rumah tangga biasanya di buang ke pari yang ada di sisi jalan dan dibuag ke sungai kecil yang ahirnya menyatu dengan sungai batang gadis di sebelah selatan.

  1. AIR BERSIH

Air bersih yang digunakan oleh penduduk adalah air sumur dangkal, yang umumnya tiap rumah punya satu sumur, dan ini mencukupi.

  1. PERSAMPAHAN

Pengelolaan sampah belum ada penanganan husus baik oleh masarakat maupun oleh pemerintah, karena dari dulu samapai sekarang belum mengalami masalah berarti, umunya penduduk membakar sampah masing-masing, walupun ada sebagian kecil yang membuang sampah ke saluran irigasi.

  1. LISTRIK DAN TELEPON

Jaringan listrik masuk kedesa ini sudah sangat lama, mungkin karena desa ini berada di jalur lintas Medan Padang, demikian juga jaringan telepon, namun penduduk pada tahun sebelum 1996 masih banyak yang belum menggunakan listrik, demikan juga halnya dengan telepon, tapi sekarang ini hampir semua penduduk sudah menggunakan listrik, untuk jaringan telepon tidak mengalami perkembangan yang signifikan karena sudah adanya jaringan telepon seluler dari berbagai operator sudah ada sejak tahun 2002.

  1. FASILITAS PENDIDIKAN

Desa Mompang julu memiliki gedung SD permenenn yang sudah ada sejak dulu, yaitu SD Negeri No 142602 Mompang julu dan pada tahun 1985 dibangun lagi satu gedung SDN INPRES Mompang Julu, kemudian ada 4 (empat) gedung Madrasah Ibtidaiyah, dulu hanya satu saja yaitu yang di depan mesjid raya Riyadhusshalihin, kemudian karena bertambahnya anak didik dibangun lagi di samping mesjid yang di gang bunga tanjung, kemudian pada tahun 1999 dibangun Madrasah Ibtidaiyah oleh perantau asal Mompang Julu yang telah sukses di Malaysia, beliau menghususkan sekolah ini untuk anak anak yatim desa ini dan anak kurang mampu.

Atas swadaya masyarakat, dibangun pula Madrasah Tsanawiyah pada tahun 2001 di belakan g Mesjid Raya Riyadhusshalihin, namun karena banyaknya Madrasah tsanawiyah di desa lain yang sudah banyak menamatkan anak didiknya (sejak zaman sebelum merdeka,yaitu Pondok Pesantren Mustafawiyah Purba Baru), dan juga dibangunnya ponpes modern Al Husnayain dan Royhanuljannah mungkin karena hal tersebut maka Madrasah tsanawiyah desa Mompang Julu ini kalah saing.

  1. FASILITAS PERIBADATAN

Mesjid Raya Riyadhusshalihin sudah ada sejak lama, kemudian surau yang di gang bunga  tanjung di perbesar menjadi Mesjid pada tahun 2003, kemudian juga di bangun Mesjid Al Ihsan di huta olbung(sebelah barat), jadi sekarang sudah ada tiga Mesjid di Desa Mompang Julu.

  1. FASILITAS PEREKONOMIAN

Desa Mompang julu memiliki satu fasilitas perkonomian pasar yaitu berupa poken jong-jong(pasar berdiri),dimana pekan ini hanya ada waktu Bulan Ramadhan saja. Selain itu juga di jumpai ada sekitar 25 unit  took/kedai yang tersebar di lokasi perumahan. Hail ini jauh berbeda dengan tahun 2001 yang hanya memiliki sikitar 10  unit toko.

PERANGKAT DESA

Perangkat tertinggi di desa ini adalah kepala desa yang dipilih langsung oleh masyarakat sejak dulu hingga sekarang, namun yang tidak kalah penting perannya adalah keberadaan system dalihan natolu(tiga tungku) yaitu mora, kahanggi, dan anak boru, demikian juga peran naposo nauli bulung (karang taruna) yang memiliki peran cukup penting di tengah-tengah masyarakat.

OBJEK WISATA

  1. Bendungan Air

Tempat ini mungkin merupakan tempat paling populer dan paling banyak di kunjungi, terutama pada hari-hari liburan/menjelang liburan. Tempatnya berada di dekat kebun karet H. Atas (dahulu milik H. Abdurrahman/Kolol) di saba julu/saba bendungan. Selain tempatnya yang relatif mudah dicapai, baik dari Mompang maupun Aek Horsik. Ditempat ini kita bisa menikmati pemandangan yang bagus dengan latar belakang panorama Bukit Barisan, kebun karet, hamparan persawahan dan lekukan sungai Siala Payung sendiri. Selain itu kita tentunya dapat mandi-mandi sepuasnya dan bagi yang ingin ke sana sambil makan-makan (tentunya intu harus) tempat ini menyediakan tempat-tempat strategis, seperti di dekat puntu masuk/ngangga pertama ke bendungan itu tepatnya di bawah pohon karet, atau di bendungan itu sendiri, kayu bakarnya tinggal di amabidl rangting/dahan karet yang tyelah masak di dekat bendungan itu.

Tapi sayangnya, tempat ini nyaris tanpa perawatan. Sejak dibangun tahun 1990 dengan dana kira-kira 1 milyar, tempat ini seolah ditinggalkan begitusaja, shingga sekarang ditumbuhi semak-semak belukar yagn cukup lebat yang kadang menutupi bendungan itu sendiri. Lagi purla banyak masyarakat menganggap bendungan ini tidak efektif alias mubazir karena saluran airnya banyak yang tidak tepat sasaran. Tapi mudah-mudahan anda tidak kecewa saat berkunjung kesana, karena dibalik lebatnya semak-semak yang menutupinya, anda masih akan menemukan sepotong keindahannya.

b. Sampuran (Air Terjun)

Pada dasarnya, sampuran sangat banyak di Mompang Julu, yaitu di sepanjang aliran sungai Aek Siala Payung, hal ini dimungkinkan karena jalur sungai ini dari mata airnya di Dolok Malea yang tinggi, hingga alurnya harus melewati tempat-tempat yang kadang-kadang sangat curam, dan disinilah air terjun itu terbentuk. Diantara sekian banyak sampuran itu, yang paling terkenal adalah Sampuran na Donok (Air terjun yang dekat) dan Sampuran na Dao (Air terjun yang jauh), konon masih ada lagi sampuran yang tingginya ± 100 m di kaki Dolok Malean namun hal ini belum banyak diketahui orang, sehingga disini tidak dipublikasikan.
– Sampuran na Donok (air terjun dekat)

Air terjun ini terletak di sebelah utara (dolok) Mompang Julu, yaitu di dekat Saba Opong/Saba Dolok. Tempat ini sangat indah dengan aliran sungai Siala Payung nan jernih diantara bebatuan sungai berwarna-warni dan berbagai ukuran. Kita tentunya dapat mandi sepuasnya di tempat ini, terutama di air terjunnya yang pertama dengan tinggi ± 2 m, walaupun pendek namun derasnya aliran ait ditambah lekukan dua batu besar yang habis dikikis air, membuatnya (membentuk tempat bak kolam .

Tak jauh dari tempat ini nampaklah sampurannya (Sampuran pertama kadang disebut orang bukan sampuran). Sampuran ini sebenarnya tidak seperti air terjun pada umumnya karena sampuran ini terbentuk oleh apitan 2 batu besar, dan di celah antara keduanya, mengalirlah air sungai ini. Pernah pada bulan September 2004, celah antara kedua batuan itu dihalangi kayu besar yang hanyut dari hulu karena hujan deras, sehingga airnya meluap memanjang hingga lebarnya hampir 3 meter dan menimbukkan pemandangan yang indah. Dengan dikelilingi bermacam-macam pepohonan nan rindang diantara pepohonan kebun karet, suasanyanya tampak begitu indah dan alami.

Walaupun agak jauh dari kampung, namun sampuran ini dapat dicapai dengan jalan kaki selama ± ½ jam, dan tentunya bagi anda yang akan kesana pasti sambil makan-jmakan, yang mungkin telah disiapkan dari rumah, namun jika anda ingin masak rame-rame disana (dan tentunya lebih mengasyikkan), jangan lupa siapkan dengan lengkap dan bawa minyak tanah, karena kading ranting pohon atau karet yang kita ambil agak lembab, sehingga perlu pemancing api, dan kami ingatkan anda untuk tidak berteriak-teriak atau ketawa terlalu keras, karena sebagian orang percaya termpat ini dan sampuran-sampuran lainnya ada penunggunya, tapi hal ini hendaknya tidak mengurangi keceriaan anda di sana. Kalau sekiranya tempat in dikelola dengan baik dan professional, tentunya orang akan punya pilihan tidak hanya dengan Pintu Air Salambue yang terkenal itu, dan jangan lupa bawa kamera anda untuk foto-foto moment-moment anda yang pastinya indah dna menyenangkan bareng kawan-kawan anda.

– Sampuran na Dao(air terjun jauh)

Tempatnya berada di Dolok Malea berjarak sekitar 4 km dari Mompang Julu. Jika Anda menyukai lintas alam, tempat ini pasti akan menantang anda. Jika disampuran na Donok anda hanya menjumpai 1 sampuran saja dan ituopun pendek, maka ditempoat ini anda akan menemukan banyak air terjun yang sangt indah. Jika ingin kesana sebaiknya anda lakukan sambil camping (bermalam), karena jika anda datang langsung menuju sampurannya, anda pasti akan sangat kelelahan, selain karena medan menuju tempat itu hampir terus-menerus menanjak hingga ± 80m , dan kadang hingga menurun hingga ± 70m , anda juga harus menyusuri sungai dengan berjalan kaki selama hampir ½ jam dan mau tidak mau anda harus melakukannya, karena jalan satu-satunya mungkin hanya dari situ. Sedangkan jika anda mencoba melawan arus dengan datang dari Sampuran na Donok, anda mungkin tidak akan berhasil, karena jalur sungai ini kadang-kadang harus melewati tebing hingga 10 m.

Saat camping, anda bisa bermalam di sopo-sopo (gubuk) yang berada di atas tebing sungai. Anda bisa minta izin untuk menginap di salah satu gubuk yang banyak di situ (sekitar 4 gubuk) pada orang-orang yang menjaga kebun. Salah satu gubuk yang tempatnya sangat bagus adalah yang terdapat di lembah tepi sungai Siala Payung. Dari sini, kita bisa melihat indahnya alam dengan kehijauan rimbunan pepohonan hutan yang masih asli diselingi gemericik derasnya air sungai nan jernih dengan hawa sejuk dan berlatar puncak-puncak Bukit Barisan (Dolok Malea). Kami sarankan anda membawa perlengakapan dan bekal yang cukup, karena setelah sampai di sana, anda mungkin tidak akan berpikir 2 kali untuk mengambilnya balik ke kampung jika ada yang tertinggal.

Saat malam, anda bisa membuat api unggun sebagai penerangan dan pertanda sopo tempat anda menginap ada orang. Selain itu anda harus memasak untuk makan malam. Masakan anda bawa bisa indomie atau ikan kering plus tempe/kentang. Persediaan beras yang anda bawa harus cukup untuk 3 kali makan. Malam yang dingin akan membuat anda menyesal kalau tidak membawa selimut, karena hawa dinginnya Dolok Malea mungkin hampir sama dengan Brastagi di waktu pagi.

Paginya setelah memasak, anda bisa langsung menyusuri sungai untuk menuju sampuran. Waktu menyusuri sungai anda akan menemukan berbagai sampuran baik yang pendek maupun tinggi yang mengharuskan anda melompat karena jalan lain tidak ada lagi. Setelah berjalan kaki selama hampir ½ jam, anda akan sampai di pertemuan cabang sungai Siala Payung dengan anak sungai itu, di pertemuan dua sungai ini, anda akan melihat Sampuran tiga tingkat dengan panjang total ± 25 m.

Indahnya sampuran ini mungkin setidak-tidaknya bisa membuat orang berpikir dua kali untuk pergi ke Aek Sijorni(di sidempuan) kalau saja jalan kesana dibuat. Tempat ini memang belum banyak dikunjungi orang dan kalau dikelola dengan baik, tempat ini pasti akan mendatangkan hasil yang banyak.

Pulangnya anda harus menyusuri sungai kembali, sebelum sampai di sampuran na Donok, anda punya pilihan jalan lain, yaitu naik ke kebun H. Atas dan lewat darat sampai ke bendungan, atau jika tidak anda lanjutkan saja terus sampai saba Opong lewat sampuran nadonok. Nah sekarang, tertarikkah anda mengunjungi tempat nan indah ini ?
– Sungai Siala Payung

Hampir seluruh aliran sungai ini merupakan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi buat rekreasi. Misalnya di sungai di daerah Saba Dolok dan Bendungan. Ini tergantung anda memilih tempatnya, dan pasti semuanya bebas pungutan alias gratis, karena seluruh tempat wisata di Mompang Julu untuk umum.

POTENSI BAHAN GALIAN PASIR DAN BATU KALI

Aliran sungai Siala Payung membawaa dampak positif bagi masyarakat desa Mompang julu, selain untuk mengiri areal persawahan, sungai ini juga digunakan sebagian masyarakat untuk menggali bahan tambang seperti pasir dan batu kali, terumatama yang mempunyai kerbau ( dan pedatinya ), mereka menambang pasir dan batu kali di sungai ini hamper tiap hari, tergantung permintaan. Namun penambangan ini masih sebatas itu saja, tidak ada upaya untuk mengembangkannya, terutama karena sekarang sudah dibangunnya kantor Pelres Mandailing Natal di samping aliran sungai yang biasanya digunakan untuk lokasi menambang pasir dan batu kali.

POTENSI RAWAN BENCANA ALAM

Desa Mompang Julu pernah mengalami banjir bandang akibat meluapnya sungai Siala Payung, ini terjadi sudah puluhan tahun yang lalu,dan ini yang merupakan penyebab pindahnya lokasi perumahan ke arah jae(barat). Desa ini juga masih bisa terancam dampak jika Gunung Sorik Marapi meletus, walaupun lokasinya masih jauh, tapi bisa terkena dampaknya, yaitu sekitar kurang lebih 30 kilometer.

KONDISI LINGKUNGAN

Kondisi lingkungan di desa mompang julu tidak mengalami banyak masalah, hanya saja perairan di sungai mengalami penurunan kualitas, hal ini bisa kita lihat dengan sedikitnya ikan yang ada di sungai. Biasanya bondar (parit) yang ada di daerah Mandailing Natal baik yang di persawahan, di kebun, di pinggir hutan atau bahkan yang ada di kampung itu sendiri, mempunyai banyak ikan, misalnya gulaen (ikan) aporas, burirak, ikan kepala timah, ikan gabus, ikan mas, ikan lele, mujahir, nila maupun ikan yang datang dari sungai Batang Gadis ke sungai Siala Payung (seperti cen-cen). Namun bondar yang mempunyai banyak ikan sekarang di Mompang Julu seperti tinggal ingot-ingotan (kenang-kenangan) saja karena keadaanya sudah tidak demikian.

Jika anda memancing di bondar-bondar yang ada di Saba Donok saja misalnya pada tahun 1990-an, hanya dengan  modal sebuah pancing, cacing tanah dan sedikit kesabaran, insyaAllah anda akan pulang ke rumah dengan membawa ikan yang cukup untuk satu kali masak. Apalagi kalau anda membawa kail taon (pancing yang dipasang seperti perangkap), anda tentu akan membawa pulang beberapa ekor ikan gabus dan ikan lele. Tapi jangan lagi berharap keadaan seperti itu akan anda alami jika anda memancing di bondar-bondar itu sekarang. Yang anda dapatkan mungkin hanya kekesalan dan mungkin sedikit mengupat karena kesal tidak mendapatkan ikan seekorpun. Dan kalaupun anda beruntung, mungkin anda hanya akan mendapat 1 ekor aporas dan beberapa ikan kepala timah kecil yang pastinya tidak akan cukup untuk dimasak.

Hal di atas bukan karena ikan-ikan yang sekarang kekenyangan, tetapi disebabkan karena ikannya sendiri yang hampir tidak ada lagi di bondar-bondar itu. Trafo Listrik(setrum) dan racun ikan (air mas), ya..alat itulah yang menyebabkan ikan-ikan itu hilang dan musnah. Walaupun banyak anggota masyarakat yang mengecam tindakan ini, namun sebagian warga masyarakat Mompang Julu yang mempunyai pikiran pendek tetap melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan alat setrum ini. Orang-orang ini juga menyewakan alat setrum ikan tadi kalau sedang tidak digunakan. Sebut saja seorang warga yang tinggal di Banjar Lombang.

Semua bondar (parit) di areal persawahan dan kebun di Mompang Julu mungkin tidak ada yang luput dari serangan alat setrum ini. Mulai dari Saba Donok, Saba Jae Bondar, Saba Julu, Saba Dolok, Saba Lombang, Saba Gunung Barani, Huta Olbung bahkan sungai yang ada di Sianggunanpun tidak luput dari sisiran orang-orang ini. Padahal kalau orang-orang ini mau sedikit menggunakan otak di kepalanya untuk memikirkan akibat dari perbuatannya, maka hal ini mungkin tidak akan terjadi. Ikan-ikan baik besar maupun kecil akan mati tersetrum listrik. Bahkan telur-telurnya sendiri akan hancur seperti di rebus. Akan di butuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan kondisi bondar-bondar ini seperti keadaan semula, itupun kalau kegiatan menyetrum ikan ini dihentikan dari sekarang!