Mangarsik Gulaen
Mangarsik (menimba air) adalah salah satu cara menangkap gulaen (ikan) secara tradisional yang masih banyak dilakukan oleh sebagian penduduk di Mompang Julu. Caranya adalah dengan mengeringkan bondar (parit) yang diperkirakan banyak ikannya dan biasanya dikerjakan oleh beberapa orang. Biasanya juga mempunyai lubuk-lubuk tempat ikan berkumpul. Di sungai Siala Payung juga bisa, tetapi hanya pada waktu musim kemaru ketika aliran airnya mengecil dan banyak mempunyai cabang-cabang dan anda bisa menutup salah satunya. Kalau di bondar, empang tempat air yang mengalir di parit tersebut berasal, airnya dialirkan ke tempat lain. Atau bisa juga dengan memutus parit tadi dengan menggunakan cangkul dan tentu saja kalau seperti ini harus di parit (bondar) yang sepi atau bukan merupakan parit yang digunakan untuk mengairi sawah. Kalau tidak, bisa panjang ceritanya sampai ke pak Kepala Desa.
Setelah aliran air berhasil di hentikan di parit yang dimaksud, sisa air yang tergenang di situ bisa kita buang dengan menimbanya dan kalau anda sendirian tentunya menjadi pekerjaan yang lumayan berat. Tapi kalu rame-rame terasa ringan dan cepat. Air yang ditimba tentu saja tidak sampai kosong karena ikannya yang kebanyakan berukuran kecil seperti aporas, incor, burirak dan sejenisnya akan ikut tertimba dan terbuang. Setelah airnya dirasa cukup kecil, kita bisa menangkapi ikan-ikan yang biasanya lumayan banyak di parit itu. Kalau bondar atau sungainya berbatu-batu, anda bisa menggunakan sejenis rumput yang biasa banyak terdapat di sekitarnya untuk dijadikan racun (tuba) ikan dengan menumbuk halus daun-daunnya dan menyebarkannya di parit itu. Kalau kebetulan anda sedang mendapatkan rezeki yang bagus dari Allah, anda bisa mendapatkan hampir 1 ember ikan. Mulai dari ikan lele, gabus, incor, aporas, bakok, ikan kepala timah dan burirak.
Hasilnya biasanya tidak dijual, tapi untuk acara makan-makan di sawah ataupun kebun. Beras dan perlengkapan masak lainnya dibawa dari rumah dengan cara mengumpulkannya secara gotong royong. Seteleh ikannya dapat baru digulai ataupun digoreng. Tapi untuk incor, aporas dan burirak sangat enak di asam padeh. Kalau di goreng terasa kurang enak karena ikannya yang kecil-kecil dan bakalan hancur setelah digoreng. Dengan tiupan angin sepoi-sepoi di sawah ataupun kebun, 5 orang bisa menghabiskan 6-7 tabung susu beras. Tapi kalau acara mangarsiknya hanya mendapatkan sedikit ikan, jadinya gulai waktu makan-makannya adalah pakis sungai, daun katuk dan daun ubi. Mangarsik sama sekali tidak merusak kehidupan ikan-ikan di parit (bondar-bondar) atapun di sungai, karena ikan-ikan yang ditangkap hanya yang dapat di lihat saja. Anak-anak ikan sama sekali tidak terganggu. Kalupun memakai tuba, tidak mematikan hanya membuat mabuk sebentar saja. Ayo.. Siapa yang mau ikut mangarsik ke Saba Dolok? atau mungkin ke Saba Julu?
Tulisan ini dikirim pada pada Senin, Juni 8th, 2009 03:39 dan di isikan dibawah Kampung Kami. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. r Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.
Bondar na so Margulaen
Biasanya bondar (parit) yang ada di daerah Mandailing Natal baik yang di persawahan, di kebun, di pinggir hutan atau bahkan yang ada di kampung itu sendiri, mempunyai banyak ikan, misalnya gulaen (ikan) aporas, burirak, ikan kepala timah, ikan gabus, ikan mas, ikan lele, mujahir, nila maupun ikan yang datang dari sungai Batang Gadis ke sungai Siala Payung (seperti cen-cen). Namun bondar yang mempunyai banyak ikan sekarang di Mompang Julu seperti tinggal ingot-ingotan (kenang-kenangan) saja karena keadaanya sudah tidak demikian.
Jika anda memancing di bondar-bondar yang ada di Saba Donok saja misalnya pada tahun 1990-an, hanya dengan modal sebuah pancing, cacing tanah dan sedikit kesabaran, insyaAllah anda akan pulang ke rumah dengan membawa ikan yang cukup untuk satu kali masak. Apalagi kalau anda membawa kail taon (pancing yang dipasang seperti perangkap), anda tentu akan membawa pulang beberapa ekor ikan gabus dan ikan lele. Tapi jangan lagi berharap keadaan seperti itu akan anda alami jika anda memancing di bondar-bondar itu sekarang. Yang anda dapatkan mungkin hanya kekesalan dan mungkin sedikit mengupat karena kesal tidak mendapatkan ikan seekorpun. Dan kalaupun anda beruntung, mungkin anda hanya akan mendapat 1 ekor aporas dan beberapa ikan kepala timah kecil yang pastinya tidak akan cukup untuk dimasak.

Hal di atas bukan karena ikan-ikan yang sekarang kekenyangan, tetapi disebabkan karena ikannya sendiri yang hampir tidak ada lagi di bondar-bondar itu. Trafo Listrik, ya..alat itulah yang menyebabkan ikan-ikan itu hilang dan musnah. Walaupun banyak anggota masyarakat yang mengecam tindakan ini, namun sebagian warga masyarakat Mompang Julu yang mempunyai pikiran pendek tetap melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan alat setrum ini. Orang-orang ini juga menyewakan alat setrum ikan tadi kalau sedang tidak digunakan. Sebut saja seorang warga yang tinggal di Banjar Lombang.
Semua bondar (parit) di areal persawahan dan kebun di Mompang Julu mungkin tidak ada yang luput dari serangan alat setrum ini. Mulai dari Saba Donok, Saba Jae Bondar, Saba Julu, Saba Dolok, Saba Lombang, Saba Gunung Barani, Huta Olbung bahkan sungai yang ada di Sianggunanpun tidak luput dari sisiran orang-orang ini. Padahal kalau orang-orang ini mau sedikit menggunakan otak di kepalanya untuk memikirkan akibat dari perbuatannya, maka hal ini mungkin tidak akan terjadi. Ikan-ikan baik besar maupun kecil akan mati tersetrum listrik. Bahkan telur-telurnya sendiri akan hancur seperti di rebus. Akan di butuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan kondisi bondar-bondar ini seperti keadaan semula, itupun kalau kegiatan menyetrum ikan ini dihentikan dari sekarang!
Apakah perbuatan oknum masyarakat ini tidak ditindak? Sama sekali tidak. Walaupun Polres Mandailing Natal bermarkas di ujung kampung ini, namun tidak ada yang berani melaporkan, baik anggota masyarakat maupun kepala desa Mompang Julu sendiri. Entah karena takut atau tidak peduli, kita tidak tahu. Padahal perbuatan ini dikategorikan melanggar Undang-Undang tentang Lingkungan. Walaupun begitu, ke depan sangat kita harapkan ketegasan Kepala Desa kita yang baru terpilih maupun ketegasan dari pihak Hatobangon selaku pelaku adat di kampung ini untuk segera melarang menangkap ikan dengan cara menyetrum demi terciptanya kembali lingkungan yang bebas dari ganguan-ganguan semacam setrum listrik ini. Sebagian bondar yang bagus namun dianggap tidak produktif bisa dijadikan lokasi Lubuk Larangan. Contohnya terdapat di Gunung Tua dan Gunung Barani. Ikan-ikan dilindungi dan suatu saat bisa diambil dan hasil penjualannya bisa menjadi pemasukan untuk kas desa.
Tulisan ini dikirim pada pada Minggu, Desember 21st, 2008 06:00 dan di isikan dibawah Kampung Kami. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. r Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.
2 Tanggapan ke

Wisata
Objek Wisata
1. Bendungan Air
Tempat ini mungkin merupakan tempat paling populer dan paling banyak di kunjungi, terutama pada hari-hari liburan/menjelang liburan. Tempatnya berada di dekat kebun karet H. Atas (dahulu milik H. Abdurrahman/Kolol) di Saba Julu/Saba Bendungan. Selain tempatnya yang relatif mudah dicapai, baik dari Mompang maupun Aek Horsik. Ditempat ini kita bisa menikmati pemandangan yang bagus dengan latar belakang panorama Bukit Barisan, kebun karet, hamparan persawahan dan lekukan sungai Siala Payung sendiri. Selain itu kita tentunya dapat mandi-mandi sepuasnya dan bagi yang ingin ke sana sambil makan-makan (tentunya itu harus) tempat ini menyediakan tempat-tempat strategis, seperti di dekat pintu masuk/tangga pertama ke bendungan itu tepatnya di bawah pohon karet, atau di bendungan itu sendiri, kayu bakarnya tinggal di ambli di ranting/dahan karet yang telah masak di dekat bendungan itu.

Tapi sayangnya, tempat ini nyaris tanpa perawatan. Sejak dibangun tahun 1990 dengan dana kira-kira 1 milyar, tempat ini seolah ditinggalkan begitu saja, sehingga sekarang ditumbuhi semak-semak belukar yagn cukup lebat yang kadang menutupi bendungan itu sendiri. Lagi pula banyak masyarakat menganggap bendungan ini tidak efektif alias mubazir karena saluran airnya banyak yang tidak tepat sasaran. Selain itu, tempat ini hampir hanya dikunjungi oleh orang yang pacaran. Tapi mudah-mudahan anda tidak kecewa saat berkunjung kesana, karena dibalik lebatnya semak-semak yang menutupinya anda masih akan menemukan sepotong keindahannya.
2. Sampuran (Air Terjun)
Pada dasarnya, sampuran sangat banyak di Mompang Julu, yaitu di sepanjang aliran sungai Aek Siala Payung, hal ini dimungkinkan karena jalur sungai ini dari mata airnya di Dolok Malea yang tinggi, hingga alurnya harus melewati tempat-tempat yang kadang-kadang sangat curam, dan disinilah air terjun itu terbentuk. Diantara sekian banyak sampuran itu, yang paling terkenal adalah Sampuran na Donok (Air terjun yang dekat) dan Sampuran na Dao (Air terjun yang jauh), konon masih ada lagi sampuran yang tingginya ± 100 m di kaki Dolok Malea namun hal ini belum banyak diketahui orang, sehingga disini tidak dipublikasikan.
• Sampuran na Donok
Air terjun ini terletak di sebelah utara (dolok) Mompang Julu, yaitu di dekat Saba Opong/Saba Dolok. Tempat ini sangat indah dengan aliran sungai Siala Payung nan jernih diantara bebatuan sungai berwarna-warni dan berbagtai ukuran. Kita tetunya dapat mandi sepuasnya di tempat ini, terutama di air terjunnya yang pertama dengan tinggi ± 2 m, walaupun pendek namun derasnya aliran air ditambah lekukan dua batu besar yang habis dikikis air, membuatnya (membentuk tempat bak kolam).

Tak jauh dari tempat ini nampaklah sampurannya (Sampuran pertama kadang disebut orang bukan sampuran). Sampuran ini sebenarnya tidak seperti air terjun pada umumnya karena sampuran ini terbentuk oleh apitan 2 batu besar, dan di celah antara keduanya, mengalirlah air sungai ini. Pernah pada bulan September 2004, celah antara kedua batuan itu dihalangi kayu besar yang hanyut dari hulu karena hujan deras, sehingga airnya meluap memanjang hingga lebarnya hampir 3 meter dan menimbukkan pemandangan yang indah. Dengan dikelilingi bermacam-macam pepohonan nan rindang diantara pepohonan kebun karet, suasanyanya tampak begitu indah dan alami.
Walaupun agak jauh dari kampung, namun sampuran ini dapat dicapai dengan jalan kaki selama ± ½ jam, dan tentunya bagi anda yang akan kesana pasti sambil makan-jmakan, yang mungkin telah disiapkan dari rumah, namun jika anda ingin masak rame-rame disana (dan tentunya lebih mengasyikkan), jangan lupa siapkan dengan lengkap dan bawa minyak tanah, karena kadang ranting pohon atau karet yang kita ambil agak lembab, sehingga perlu pemancing api, dan kami ingatkan anda untuk tidak berteriak-teriak atau ketawa terlalu keras, karena sebagian orang percaya tempat ini dan sampuran-sampuran lainnya ada penunggunya, tapi hal ini hendaknya tidak mengurangi keceriaan anda di sana. Kalau sekiranya tempat in dikelola dengan baik dan professional, tentunya orang akan punya pilihan tidak hanya dengan Pintu Air Salambue yang terkenal itu, dan jangan lupa bawa kamera anda untuk foto-foto moment-moment anda yang pastinya indah dan menyenangkan bareng kawan-kawan anda.
• Sampuran na Dao
Tempatnya berada di Dolok Malea berjarak sekitar 4 km dari Mompang Julu. Jika Anda menyukai lintas alam, tempat ini pasti akan menantang anda. Jika di sampuran na Donok anda hanya menjumpai 1 sampuran saja dan itupun pendek, maka ditempat ini anda akan menemukan banyak air terjun yang sangat indah. Jika ingin kesana sebaiknya anda lakukan sambil camping (bermalam), karena jika anda datang langsung menuju sampurannya, anda pasti akan sangat kelelahan, selain karena medan menuju tempat itu hampir terus-menerus menanjak hingga ± 80 derajat, dan kadang hingga menurun hingga ± 70 derajat, anda juga harus menyusuri sungai dengan berjalan kaki selama hampir ½ jam dan mau tidak mau anda harus melakukannya, karena jalan satu-satunya mungkin hanya dari situ. Sedangkan jika anda mencoba melawan arus dengan datang dari Sampuran na Donok, anda mungkin tidak akan berhasil, karena jalur sungai ini kadang-kadang harus melewati tebing hingga 10 m.
Saat camping, anda bisa bermalam di sopo-sopo (gubuk) yang berada di atas tebing sungai. Anda bisa minta izin untuk menginap di salah satu gubuk yang banyak di situ (sekitar 4 gubuk) pada orang-orang yang menjaga kebun. Salah satu gubuk yang tempatnya sangat bagus adalah yang terdapat di lembah tepi sungai Siala Payung. Dari sini, kita bisa melihat indahnya alam dengan kehijauan rimbunan pepohonan hutan yang masih asli diselingi gemericik derasnya air sungai nan jernih dengan hawa sejuk dan berlatar puncak-puncak Bukit Barisan (Dolok Malea). Kami sarankan anda membawa perlengkapan dan bekal yang cukup, karena setelah sampai di sana anda mungkin tidak akan berpikir 2 kali untuk mengambilnya balik ke kampung jika ada yang tertinggal.
Saat malam, anda bisa membuat api unggun sebagai penerangan dan pertanda sopo tempat anda menginap ada orangnya. Selain itu anda harus memasak untuk makan malam. Masakan anda bawa bisa indomie atau ikan kering plus tempe/kentang. Persediaan beras yang anda bawa harus cukup untuk 3 kali makan. Malam yang dingin akan membuat anda menyesal kalau tidak membawa selimut, karena hawa dinginnya Dolok Malea mungkin hampir sama dengan Brastagi di waktu pagi.
Paginya setelah memasak, anda bisa langsung menyusuri sungai untuk menuju sampuran. Waktu menyusuri sungai anda akan menemukan berbagai sampuran baik yang pendek maupun tinggi yang mengharuskan anda melompat karena jalan lain tidak ada lagi. Setelah berjalan kaki selama hampir ½ jam, anda akan sampai di pertemuan cabang sungai Siala Payung dengan anak sungai itu, di pertemuan dua sungai ini, anda akan melihat Sampuran tiga tingkat dengan panjang total ± 25 m.
Indahnya sampuran ini mungkin setidak-tidaknya bisa membuat orang berpikir dua kali untuk pergi ke Aek Sijorni kalau saja jalan kesana dibuat. Tempat ini memang belum banyak dikunjungi orang dan kalau dikelola dengan baik, tempat ini pasti akan mendatangkan manfaatl yang banyak khususnya kepada masyarakat Mompang Julu..
Pulangnya anda harus menyusuri sungai kembali, sebelum sampai di sampuran na Donok, anda punya pilihan jalan lain, yaitu naik ke kebun H. Atas dan lewat darat sampai ke bendungan, atau jika tidak anda lanjutkan saja terus sampai saba Opong lewat sampuran na Donok. Nah sekarang, tertarikkah anda mengunjungi tempat nan indah ini ?
• Sungai Siala Payung
Hampir seluruh aliran sungai ini merupakan tempat-tempat menarik untuk dikunjungi buat rekreasi. Misalnya di sungai di daerah Saba Dolok, Saba Julu dan Bendungan. Selain itu, hampir seluruh daerah persawahan di daerah ini juga dapat dijadikan untuk tempat masak-masak, ini tergantung anda memilih tempatnya, namun yang menarik, hampir tidak pernah kedengaran orang pergi makan-makan ke daerah Saba Lombang (kecuali keluarga), ini dikarenakan air sungai Siala Payung yang juga melintasi daerah ini kebanyakan sudah tercemar oleh cucian mobil di sekitar RM Mandira dan Polres Madina. Dan pasti semua tempat wisata ini bebas pungutan alias gratis, karena seluruh tempat wisata di Mompang Julu adalah untuk umum.

9 Tanggapan ke “Wisata”