PERENCANAAN KOTA

* View
* clicks

Posted November 7th, 2008 by Allafa89

* Tugas Kuliah Lainnya

P E N D A H U L U A N
Penyediaan prasarana transportasi membutuhkan perencanaan yang komprehensif dan berkelanjutan. Untuk menjamin terlayaninya kebutuhan pergerakan secara optimal, atau tercapainya tujuan penyediaan prasarana tersebut sesuai dengan kemampuan sumber dayayang dimiliki. Salah satu aspek penting dalam perencanaan transportasi adalah prediksi kebutuhan transportasi di masa yang akan datang.
Perencanaan perangkutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan kota. Rencana kota tanpa mempertimbangkan keadaan dan pola perangkutan yang akan terjadi sebagai akibat rencana itu sendiri, akan menghasilkan kesemrawutan lalu-lintas di kemudian hari. Keadaan ini akan membawa akibat berantai cukup panjang dengan meningkatnya jumlah kecelakaan, pelanggaran lalu-lintas, menurunnya sopan santun lalu-lintas, dan lain-lain.
Perencanaan perangkutan itu sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang tujuannya mengembangkan sistem angkutan yang memungkinkan manusia dan barang bergerak atau berpindah tempat dengan aman dan murah (Pignataro, 1973)
Kaitannya perencanaan kota dengan perencanaan perangkutan, yaitu perencanaan kota mempersiapkan kota untuk menghadapi perkembangan dan mencegah timbulnya berbagai persoalan atau penyakit kota agar kota menjadi suatu tempat kehidupan yang membetahkan dan layak. Sedangkan perencanaan perangkutan mempunyai sasaran mengembangkan sistem perangkutan yang memungkinkan orang maupun barang bergerak dengan aman, murah, cepat, dan nyaman.

Perencanaan Transportasi
Permasalahan dalam perencanaan transportasi yaitu pada sifat tansportasi yang lebih sebagai suatu sistem dengan pola interaksi yang kompleks, sehingga perencanaan transportasi dapat menjadi suatu kegiatan yang rumit dan memakan waktu, serta usaha dan sumber daya yang besar. Oleh karena itu dalam perencanaan transportasi dilakukan pembatasan-pembatasan terhadap tingkat maupun lingkup analisisnya, sehingga hasil perencanaan transportasi lebih bersifat indikatif dibandingkan sifat kepastiannya.
Perencanaan transportasi ditujukan untuk mengatasi masalah transportasi yang sedang terjadi atau kemungkinan terjadi di masa mendatang. Tujuan perencanaan transportasi adalah untuk mencari penyelesaian masalah transportasi dengan cara yang paling tepat dengan menggunakan sumber daya yang ada.
Dari sisi waktu analisisnya, perencanaan transportasi dapat dibedakan menjadi perencanaan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Perencanaan jangka pendek dan menengah umumnya tidak melibatkan perencanaan prasarana berskalabesar dengan biaya tinggi. Secara lebih rinci, ketiga jenis perencanaan transportasi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan Jangka Pendek (perencanaan operasional)
Cakupan tingkat perencanaan operasional adalah misalnya membuat denah untuk persimpangan, penyeberangan pejalan kaki. Lokasi parkir, penempatan pemberhentian bus, metode pemberian karcis, langkah-langkah keselamatan dan ketertiban lalu lintas.
2. Perencanaan Jangka Menengah (perencanaan teknis)
Tingkat perencanaan ini berkaitan dengan penataan pola manajemen lalu lintas, pembuatan jalan local, pengendalian parkir, pengorganisasian angkutan umum, kooedinasi pemberlakuan tariff, membuat kawasan pejalan kaki dan sebagainya. Semua iu memunculkan permasalahanyang kompleks, saling berkaitan dan memiliki efek sampingan. Unuk menanganinya dibutuhkan keahlian dari para professional yang terlatih.
3. Perencanaan Jangka Panjang (perencanaan strategis)
Berhubungan dengan struktur dan kapasitas jaringan jalan utama dan trasnportasi umum, keterkaitan antara transportasi dan guna lahan, keseimbangan antar permintaan dan penawaran, keterkaitan antara tujuan transportasi dengan ekonomi, tujuan lingkungan dan social kesemuanya merupakan masalahyang sulit untuk dimengerti, meskipun untuk para perencana transportasi professional sekalipun.
Segi Perencanaan Perangkutan
Penyediaan ruang gerak bagi alat angkut merupakan kebutuhan mutlak yang banyak merombak bentuk jaringan ’urat nadi’ kota besar dunia, dan juga telah melanda Indonesia. Perombakan ini, dan usaha memelihara prasarana yang sudah ada, menelan anggaran biaya yang tidak sedikit.
Perkembangan teknologi angkutan juga mempengaruhi pola gerak masyarakat. Atau sebaliknya, tuntutan kebutuhan gerak masyarakat mendorong agak sulit ditentukan, sama sulitnya seperti menentukan pengaruh timbal-balik antara perangkutan dan tata guna lahan.
Perangkutan dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu :
a. Sosial : masyarakat yang membutuhkan, menggunakan, dan mengelola perangkutan, dan juga yang melakukan pergerakan;
b. Fisik : prasarana dan sarana perangkutan yang memerlukan ruang bagi pergerakannya. Pengejawatahan kegiatan perangkutan juga berupa kenyataan guna lahan untuk jaringan jalan,yang bahkan meliputi 15-30% luas tanah perkotaan;
c. Ekonomi : bagaimana pun masalah ini ternyata tidak dapat dipisahkan.

Lingkup Perencanaan Transportasi
Lingkup perencanaan transportasi meliputi aspek-aspek yang berkaitan dengan rencana pengembangan wilayah / daerah. Tipe atau lingkup kajian studi perencanaan transportasi yang dibagi dalam 3 kelompok besar, yaitu:
1. Studi perencanaan prasarana transportasi
• Penyiapan master plan pelabuhan, bandar udara ataupun terminal antar moda.
• Penentuan trase jalan raya atau trase rel kereta.
• Penyiapan master plan pengembangan jaringan jalan.
• Penyiapan master plan prasarana transportasi bagi suatu daerah permukiman.
2. Studi kebijakan operasional
• Penyiapan sistem sirkulasi lalu lintas jalan.
• Strategi pengembangan tingkat pelayanan angkutan umum.
• Strategi operasional angkutan udara.
3. Studi perencanaan transportasi komprehensif
• Tudi kebutuhan prasarana dan sarana transportasi dari suatu rencana pengembangan daerah baru (daerah rekreasi, daerah industri ,ataupun daerah komersial).
• Studi pengembangan sistem trasportasi regional.
• Studi pengembangan sistem transportasi nasional.
Pihak yang Terlibat dalam Perencanaan Transportasi
Pihak yang terlibat dalam perencanaan trasnportasi sangat bervariasi, tergantung dari sistem kelembagaan yang berlaku di masing-masing negara. Secara garis besar, dalam suatu sistem perencanaan transportasi, umumnya ada tiga kelompok/ pihak yang terlibat:
1. Pihak penyekenggara studi, yaitu orang atau lembaga yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dari suatu studi. Untuk proyek milik swasta, pihak yang dimaksud dapat berupa represetatif dari perusahaan yang menyelenggarakan studi.
2. Pihak professional / pakar, yaitu pihak yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan studi pihak yang dimaksud biasanya merupakan lembaga professional.
3. Pihak masyarakat, yaitu terdiri dari sekelompok anggota masyarakat yang dipilih untuk mewakili masyarakat umum dalam proses studi.
Pihak penyelenggara dan pihak masyarakat sebagai pihak yang mengawasi atau mengarahkan pelaksanaan studi yang dilaksanakan pihak professional. Tugas pengawasan atau pengarahan diklasifikasi dalam tiga komite, yaitu:
1. Komite eksklusif, terdiri dari representatif dari pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan.
2. Komite pengarah teknis, terdiri dari perwakilan penyelenggara studi ataupun perwakilan dari lembaga-lembaga yang terkait dengannya.
3. Komite perwakilan masyarakat, terdiri atas perwakilan dari kelompok-kelompok kepentingan yang ada di masyarakat luas.
Proses Perencanaan Perangkutan
Tujuan merencanakan perangkutan adalah mencari penyelesaian masalah perangkutan dengan cara yang paling tepat dengan menggunakan sumber daya yang ada. Merencanakan perangkutan sebagai suatu kegiatan profesional dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat hanya jika semua masalah dan penyelesainnya dipandang dengan carayang setepat-tepatnya, meliputi analisis terinci dari semua faktor yang berkaitan (Black, 1981).
Merencanakan perangkutan pada dasarnya adalah memperkirakan kebutuhan angkutan di masa depan yang harus dikaitkan dengan masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan. Masalah teknis perangkutan pada umumnya bertolak dari usaha menjamin bahwa sarana yang telah ada didayagunakan secara optimum dan ditujukan guna merancang dan membangun berbagai sarana baru. Sarana harus direncanakan untuk memenuhi kebutuhan lalu-lintasyang sudah ada maupun yang akan ada, diletakkan pada lokasi yang tepat di dalam daerah atau kota, dan secara ekonomi harus dapat dipertanggungjawabkan.
Perangkutan harus memberikan keuntungan maksimum kepada masyarakat dengan meminimumkan penggunaan waktu dan biaya. Pada saat yang sama harus diperhitungkan pula peningkatan tuntutan akan perkembangan kota atau tata guna lahan serta perluasan wilayah perkotaan.
Proses perencanaan perangkutan merupakan paduan berbagai ciri khas hubungan antarlingkungan kegiatan di dalam kota. Walaupun unsur dalam proses perencanaan disusun secara logis, hendaklah diingat bahwa prosesnya sendiri tidaklah selalu berurutan seperti susunan tersebut dibawah.

Tahapan Proses Perencanaan Perangkutan
(Martin dkk, 1966);
Tahap 1. Pendataan kondisi yang ada, meliputi tata guna lahan, kependudukan, pemilikan kendaraan, lalu-lintas orang da kendaraan, sarana angkut, kegiatan ekonomi, sumber keuangan, dan bangkitan lalu-lintas.
Tahap 2. kebijaksanaan pemerintah untuk masa yang akan datang, meliputi pengawasan dan kebijaksanaan pemerintah atas perkembangan pertanahan, serta ciri khas jaringan perhubungan yang akan datang.
Tahap 3. perkiraan perkembangan wilayah kota, meliputi taksiran kependudukan, kegiatan ekonomi, pemilihan kendaraan, tata guna lahan, dan jaringan perhubungan di masa yang akan datang.
Tahap 4. perkiraan lalu-lintas di masa yang akan datang, meliputi bangkitan lalu-lintas di masa depan, pilihan moda angkutan atau ragam kendaraan, perpindahan antarzone, pembebanan dari pergerakan antarzone ke dalam jaringan perangkutan, dan evaluasi.
Tahap pertama proses perencanaan perangkutan adalah mengumpulkan informasi. Pendataan dapat dilakukan bersamaan. Analisis data yang telah terkumpul dapat memberikan informasi dasar yang sangat diperlukan untuk mengenali ciri khas pembangkit lalu-lintas. Dari data ini pun dapat ditaksir pertumbuhan wilayah kota.
Taksiran keadaan bangkitan lalu-lintas di masa depan dan pengadaan jaringan perangkutan ditentukan berdasarkan data dasar dan dari hasil perkiraan pola pertumbuhan wilayah kota. Dari perkiraan keadaan pembangkit lalu-lintas dan usulan jaringan jalan dapat ditentukan pola lalu-lintas di masa dengan dan diwujudkan dalam sarana tertentu.
Hasil pekerjaan tersebut kemudian dinilai dalam lingkup tingkat pelayanan yang dikehendaki serta konsekuensi perkembangan sosial-ekonomi sebagai akibat usulan jaringan perangkutan. Beberapa penyempurnaan mungkin diperlukan, dan informasi yang diperoleh selama usaha tersebut patut digunakan untuk memodifikasi hasil yang telah dicapai pada tahap awal proses perencanaan. Kemudian pola perlalu-lintasan disusun sesuai dengan jaringan perangkutan yang telah disempurnakan. Proses ini berulang terus sampai tercapai hasil yang memuaskan.

Tahapan Kegiatan
(Kodoatie, RJ. Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur)
Komponen utama dalam kegiatan perencanaan transportasi meliputi tahapan sebagai berikut:
• Formulasi tujuan, sasaran dan lingkup perencanaan: merupakan tahap awal dari perencanaan yang temasuk di dalamnya identifikasi masalah serta pengenalan lokasi perencanaan untuk menentukan metode perencanaan dan kebutuhan data.
• Prediksi kondisi masa yang akan datang: termasuk di dalamnya adalah prdiksi besar pergerakan juga pola interaksi serta dampaknya.
• Analisis hasil prediksi kondisi masa yang akan datang: analisis yang perlu dilakukan tergantung pada tujuan, sasaran dan lingkup perencanaan. Misalnya dapat berbentuk penentuan kebutuhan prasarana, pola operasi atau manajemen sarana-prasarana, dampak peningkatan atau penyediaan prasarana terhadap ekonomi, lingkungan dan sebagainya.
Tahapan yang cukup sederhana untuk proses studi perencanaan transportasi lengkap secara rinci adalah terdiri dari beberapa langkah dasar sebagai berikut ini:
• Penyusunan tujuan dan sasaran perencanaan, yaitu menyajikan suatu pernyataan yang jelas tentang tujuan dan sasaran rencana dengan beberapa indikasi prioritas.
• Pengumpulan data lapangan, yakni melakukan pengumpulan seluruh data yang diperlukan bagi suatu studi perencanaan transportasi.
• Identifikasi masalah, yakni mengkaji secara mendalam permasalahan-permasalahan yang ada dan mungkin di masa mendatang.
• Penyusunan alternatif perencanaan, yaitu perumusan alternatif-alternatif perencanaan dalam usaha mengantisipasi permasalahan yang ada dan yang dimungkinkan akan ada.
• Prediksi dampak perencanaan, yaitu melakukan prediksi terhadap komponen-komponen dampak yang mungkin akan timbul di masa mendatang untuk masing-masing alternatif perencanaan.
• Tahap Evaluasi, yaitu tahapan akhir yang melihat dampak yang dapat diperkirakan pada tahap ini dibanding dengan tujuan dan sasaran perencanaan yang ditetapkan.

Perencanaan Transportasi Jangka Panjang
Kegiatan perencanaan transportasi yang paling besar pada tahun-tahun terakhir ini ialah perencanaan transportasi perkotaan, dimana fokus perhatiannya adalah merencanakan prasarana jalan dan transportasi umum untuk masa depan. Dalam bidang perencanaan transportasi perkotaan inilah sebagian besar riset dan pengembangan alat-alat model baru yang telah dilakukan dimana sebagian besar pengalaman dalam perencanaan transportasi jangka panjang telah dikembangkan.
Perencanaan transportasi memiliki suatu hirarki sama seperti jenis perencanaan pengambilan keputusan lainnya yang pada satu pihak terikat oleh pertimbangan-pertimbangan transportasi di dalam konteks perkembangan social dan ekonomi nasional serta regional dan pihak lain terikat pula oleh desain dan operasi bagian-bagian tertentu dari system transportasi tersebut.
Proses perencanaan transportasi perkotaan telah dikembangkan sehingga dapat mencakup semua moda, dikoordinasikan dengan perencanaan tata guna lahan, dan berkesinambungan sehingga rencana tersebut dapat diperbaharui apabila terdapat perubahan dalam kondisi-kondisinya. Perencanaan transportasi perkotaan difokuskan pada rencana-rencana jangka panjang yang ditujukan terutama pada perbaikan-perbaikan fasilitas tetap yang besar.
Unsur-unsur yang penting dalam proses perencanaan perkotaan adalah pengumpulan data mengenai keadaan pada saat ini di daerah yang bersangkutan dengan system transportasinya, pengembangan model-model dan metode-metode untuk meramalkan kebutuhan masa depan dari sistem transportasi itu, pengadaan rencana-rencana alternative dari sekumpulan rencana yang akan disampaikan kepada pihak-pihak pembuat keputusan yang berwenang. Unsur lain yang juga penting adalah pemrograman komponen-komponen dari rencana tersebut, sehingga perubahan-perubahan tertentu dapat dilaksanakan pada saat yang terbaik.
Perencanaan transportasi daerah ditandai dengan tersedianya banyak pilihan, yaitu pilihan yang tidak hanya tergantung pada system tranportasi itu sendiri, tetapi juga tergantung pada pola tata guna lahan dan kebutuhan perjalanan yang berkaitan dengannya. Setiap daerah cenderung memiliki pola tata guna lahan dan kebutuhan perjalanan yang tersendiri. Karena itu, bentuk terbaik dari jaringan transportasi di suatu daerah mungkin sangat berbeda dengan bentuk terbaik di daerah lainnya.

Daftar Pustaka
Warpani, Suwardjoko. 1990. Merencanakan Sistem Perangkutan. Bandung: Penertbit ITB.
Kodoatie, RJ. 2003. Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Morlok, EK. 1984. Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.